Zakat

Kajian Zakat - Kontribusi BAZIS Provinsi DKI Jakarta Dalam Pemberdayaan Masalah Keumatan

Mengawali tulisan ini, saya ingin menyampaikan ilustrasi menarik. Seorang ibu yang sudah relatif tua dan tinggal di daerah Cilandak harus membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan biaya pendidikan anaknya, Sri Mulyani.
Anak semata wayangnya ini, kini duduk di bangku SMKN 20 Jakarta dan selepas itu ingin melanjutkan pendidikannya di Diploma III. Namun, ibunya merasa sudah tidak sanggup lagi untuk mencari biaya pendidikannya. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya saja sudah sering kekurangan, apalagi harus membiayai pendidikan yang lebih tinggi. Kebetulan Sri Mulyani tercatat sebagai penerima beasiswa dari BAZIS Provinsi DKI Jakarta. Sang ibu meluangkan waktunya menemui petugas BAZIS Provinsi DKI Jakarta untuk menanyakan apakah beasiswa anaknya bisa dilanjutkan. Dari wajahnya, tampak ia sangat berharap BAZIS dapat membantu untuk merealisasikan cita-cita anaknya.
Begitu juga dengan Wartiningsih. Ia hanya bisa berbaring setelah menjalani operasi cesar di sebuah rumah sakit di Jakarta Timur. Selama 17 hari ia tidak diizinkan pulang  karena belum melunasi biaya operasi tersebut. Moh. Sartono, suaminya yang hanya seorang sopir pengganti mengaku tidak punya persiapan sama sekali karena penghasilannya pas-pasan dan tidak menyangka akan melalui operasi cesar. Akhirnya, ia mengajukan permohonan bantuan ke BAZIS Provinsi DKI Jakarta. Setelah melalui verifikasi, BAZIS mengabulkan permohonanya untuk melunasi biaya persalinan tersebut. "Saya sangat senang. Saya nggak tahu apa jadinya kalau nggak ada bantuan ini. Alhamdulillah, Allah memberi jalan melalui BAZIS," tutur Sartono.

Kisah-kisah di atas merupakan sebagian kecil potret masyarakat sekaligus mencerminkan eksistensi BAZIS Provinsi DKI Jakarta di mata mereka. Banyak masyarakat, khususnya kaum dhuafa menaruh harapan terhadap BAZIS Provinsi DKI Jakarta untuk merealisasikan cita-cita mereka atau keluar dari kemelut problem ekonomi yang mereka hadapi. Terlepas dari itu semua, BAZIS Provinsi DKI Jakarta telah memberikan kontribusi yang besar terhadap masalah keumatan dalam konteks yang sangat luas, yaitu:

Pertama, peningkatan kualitas sumber daya manusia. BAZIS Provinsi DKI Jakarta menjadikan aspek ini sebagai prioritas utama untuk menyelamatkan pendidikan generasi umat. Sebab, pendidikan merupakan modal untuk mengarungi kehidupan di masa depan yang semakin kompleks. Dalam konteks ini, BAZIS Provinsi telah menyalurkan ZIS berupa bantuan biaya pendidikan mulai tingkat SD sampai perguruan tinggi. Tidak kurang dari 5000 orang setiap tahunnya yang mendapat bantuan biaya pendidikan dari BAZIS Provinsi DKI Jakarta. Di samping itu, BAZIS Provinsi DKI Jakarta menyalurkan bantuan program PKU, PDU, serta bantuan kesejahteraan untuk para guru honorer, guru ngaji dan merbot masjid.

Kedua, bantuan biaya kesehatan. BAZIS Provinsi DKI Jakarta juga peduli terhadap kesehatan masyarakat, khususnya kaum dhuafa. Dalam konteks ini, BAZIS Provinsi DKI memberikan bantuan biaya berobat bagi keluarga miskin, bantuan untuk pencegahan penyakit demam berdarah, serta menyiapkan ambulan untuk memberikan kemudahan bagi kaum dhuafa untuk berobat ke rumah sakit.

Ketiga, berkembangnya pranata-pranata sosial keagamaan. Sebagai sebuah lembaga yang concern dengan masalah-masalah sosial keagamaan, BAZIS Provinsi DKI Jakarta ikut berpartisipasi aktif dalam mendukung realisasi kegiatan keagamaan, pembangunan masjid dan mushalla maupun lembaga pendidikan.

Keempat, pemberdayaan ekonomi umat. Kontribusi dalam bidang pemberdayaan ini diwujudkan dalam bentuk pemberian modal usaha kepada para pedagang kecil. Pemberdayaan yang dilakukan oleh BAZIS Provinsi DKI Jakarta tidak hanya terfokus pada pedagang secara individu, tetapi juga pada pengembangan lembaga-lembaga syariah, seperti Baitul Mal Wattamwil (BMT). BAZIS Provinsi DKI Jakarta telah menjalin kemitraan dengan 12 BMT di Provinsi DKI Jakarta dalam memberdayakan potensi kaum dhuafa.

Kontribusi BAZIS Provinsi DKI Jakarta tidak hanya terfokus pada aspek-aspek yang terprogram, melainkan juga sensitif dengan fenomena dan problem sosial yang terjadi seperti gerak cepat untuk mengambil bagian dalam penanganan korban bencana alam dan kebakaran.

Sebagai lembaga yang dianggap berhasil dan menjadi pilot proyek bagi BAZ-BAZ di Indonesia, BAZIS Provinsi DKI Jakarta kerap berkontribusi bagaimana lembaga pengelola ZIS di Indonesia menjadi lembaga yang baik, mampu mengeksplorasi potensinya secara maksimal dan eksistensinya dirasakan umat.

***

What\'s next? Kini, BAZIS Provinsi DKI Jakarta telah memasuki usia 5 windu dalam melayani dan memberdayakan umat. Badan amil zakat ini telah menunjukkan bahwa ia tetap survive dalam kondisi sosial ekonomi apapun dan mampu meningkatkan kepercayaan dari masyarakat luas. Hal ini tak luput dari kerja keras tanpa kenal lelah dari berbagai elemen dan unit-unit kerja di dalam tubuh BAZIS Provinsi DKI Jakarta juga dukungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam mensosialisasikan zakat, infaq dan shadaqah ke masyarakat DKI Jakarta.

Namun imbas perekonomian dewasa ini memposisikan peran BAZIS Provinsi DKI Jakarta semakin berat karena kemiskinan yang dihadapi bukan hanya kemiskinan strukturalyang lahir sebagai akibat kemiskinan orang tua dan minimnya pendidikan. Pada saat ini BAZIS Provinsi DKI jakarta dihadapkan pada kemiskinan kondisional sebagai akibat PHK, sempitnya lapangan kerja, dan sebagainya. Kemiskinan ini sangat rawan karena sebagian besar dari mereka pernah merasakan hidup berkecukupan.

Realitas di atas membutuhkan solusi yang cermat dan tepat. Proses penyelesaiannya bukan semata-mata pada masalah penyediaan dana, tetapi juga bagaimana mengurangi ketergantungan mereka pada bantuan orang lain, yaitu dengan pembekalan ketrampilan dan usaha sehingga mereka bisa hidup mandiri.

Ke depan, kita dituntut untuk terus meningkatkan kinerja dan prestasi, inovasi, dan mampu merumuskan solusi-solusi jitu bagi penanganan masalah-masalah keumatan, misalnya bagaimana kita bisa mengeksplorasi semaksimal mungkin berbagai potensi ZIS yang dan mendayagunakannya sehingga menjadi zakat produktif, berdaya guna, dan berhasil guna.