Prestasi yang dicapai pada tahun 2007 merangsang BAZIS Provinsi DKI Jakarta untuk terus meningkatkan hasil perolehan ZIS. Pada tahun 2008 ini, BAZIS Provinsi DKI Jakarta menargetkan perolehan ZIS sebesar 30 milyar rupiah. Hal ini tertuang dari hasil rapat kerja Badan Pelaksana BAZIS Provinsi DKI Jakarta dan unit-unitnya pada tanggal 17-19 Januari 2008 yang lalu.
Untuk mencapai target itu, sasaran utama pengumpulan ZIS adalah perusahaan yang selama ini belum digali secara optimal dan memang dirasa cukup sulit. Sebab, perusahaan cenderung memanfaatkan sendiri dana-dana social mereka. Menurut HM. Sukanta AS, Tanpa menafikan upaya-upaya mereka dan tetap memberikan penghargaan terhadap mereka dalam kegiatan sosial, kecenderungan ini sedikit demi sedikit perlu diminimalisir sehingga terjadi sinergi yang cukup kuat antara BAZIS dengan perusahaan. Hal ini diperlukan dalam rangka pengentasan masalah-masalah sosial secara sistematis, berdaya guna, dan berhasil guna. Tentu saja, hal menjadi salah satu tantangan yang harus diselesaikan melalui penggalangan kerjasama yang intens oleh BAZIS terhadap perusahaan.
Di samping itu, potensi lain yang yang digali adalah ZIS para jamaah calon haji yang jumlahnya sangat besar di Prov. DKI Jakarta. Perlu digaris bawahi, ZIS ini bukan berarti ibadah haji wajib dizakati, tetapi harta yang dipakai untuk berangkat haji telah dikeluarkan ZIS-nya sehingga biaya-biaya haji sudah bersih. Dalam konteks ini, BAZIS Prov. DKI Jakarta memberikan fasilitas dan kemudahan kepada para jamaah calon haji untuk menunaikan ZIS mereka.
Tentu saja, untuk mencapai keberhasilan mencapai target ini bukan perkara mudah. Tapi diperlukan kerja keras dari para pelaksana BAZIS, mulai dari tingkat provinsi sampai kelurahan serta unit-unit kerja lainnya. Di samping itu, dukungan semua pihak, khususnya perusahaan juga memegang peranan penting dalam rangka optimalisasi fungsi dan peran zakat dalam mengentaskan kemiskinan di DKI Jakarta ini.
Masih Jauh dari Potensi
Susah memang mengukur secara pasti berapa potensi ZIS di Prov. DKI Jakarta ini. Sebagian lembaga menyatakan 40 trilyun, 16 trilyun, dan sebagainya. Tapi yang pasti, potensi zakat di Jakarta sangat besar mengingat keberadaannya yang strategis sebagai ibukota negara.
Target di atas sangat kecil jika dibandingkan dengan potensinya yang sangat besar. Seperti diakui sendiri oleh HM. Sukanta AS, Memang relatif kecil. Perlu diingat, bahwa banyak masyarakat masih menunaikan zakat secara konvensional (memberikan secara langsung; red.) dan segmen inilah yang akan digarap oleh BAZIS.
HM. Sukanta AS menambahkan bahwa DKI Jakarta menjadi target semua LAZ di Indonesia. Hampir semua LAZ ada di Prov. DKI Jakarta. Namun demikian, melihat grafik pengumpulan ZIS dan kepercayaan masyarakat yang terus meningkat, BAZIS Prov. DKI Jakarta optimis potensi yang besar itu akan tergali secara maksimal.[]